Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2009

Kisah Pengusaha Sukses

(Di rumah mungil di kawasan Perumnas Klender, Jakarta Timur, belasan pegawai berkaus merah kuning terlihat sibuk. Roti, daging, sosis, hingga botol-botol saus kemasan bertuliskan Edam Burger disusun rapi dalam wadah-wadah plastik siap edar. Seorang lelaki bercelana pendek berhenti bekerja, lalu keluar menyambut NOVA.
Pembawaannya sederhana, tak ubahnya seperti pegawai lain. Sambil tersenyum hangat, ia pun memperkenalkan diri. “Aduh maaf, ya, saya tidak terbiasa rapi, hanya pakai oblong dan celana pendek,” tutur Made Ngurah Bagiana, sang pemilik Edam Burger. Beberapa saat kemudian, Made bercerita.)
Terus terang, saya suka malu dibilang pengusaha sukses yang punya banyak pabrik dan outlet. Bukan tidak mensyukuri, tapi saya hanya tak mau dicap sombong. Saya mengawali semua usaha ini dengan niat sederhana: bertahan hidup. Makanya, sampai sekarang saya ingin tetap menjadi orang yang sederhana. Sesederhana masa kecil saya di Singaraja, Bali.
Orang tua memberi saya nama Made Ngurah Bagiana. Saya lahir pada 12 April 1956 sebagai anak keenam dari 12 bersaudara. Sejak kecil, saya terbiasa ditempa bekerja keras. Malah kalau dipikir-pikir, sejak kecil pula saya sudah jadi pengusaha. Bayangkan, tiap pergi ke sekolah, tak pernah saya diberi uang jajan. Kalau mau punya uang, ya saya harus ke kebun dulu mencari daun pisang, saya potong-potong, lalu dijual ke pasar.
Menjelang hari raya, saya pun tak pernah mendapat jatah baju baru. Biasanya, beberapa bulan sebelumnya saya memelihara anak ayam. Kalau sudah cukup besar, saya jual. Uangnya untuk beli baju baru. Lalu, sekitar usia 10 tahun, saya harus bisa memasak sendiri. Jadi, kalau mau makan, Ibu cukup memberi segenggam beras dan lauk mentah untuk saya olah sendiri.
PENSIUN JADI PREMAN
Begitulah, hidup saya bergulir hingga menamatkan STM bangunan tahun 1975. Bosan di Bali, saya pun merantau ke Jakarta tanpa tujuan. Saya menumpang di kontrakan kakak saya di Utan Kayu. Untuk mengisi perut, saya sempat menjadi tukang cuci pakaian, kuli bangunan, dan kondektur bis PPD.

Kerasnya kehidupan Jakarta, tak urung menjebloskan saya pada kehidupan preman. Bermodal rambut gondrong dan tampang sangar, ada-ada saja ulah yang saya perbuat. Paling sering kalau naik bis kota tidak bayar, tapi minta uang kembalian. (Sambil berkisah, Made terbahak tiap mengingat pengalaman masa lalunya. Berulang kali ia menggeleng, lalu membenarkan letak kacamatanya).
Toh, akhirnya saya pensiun jadi preman. Gantinya, saya berjualan telur. Saya beli satu peti telur di pasar, lalu diecer ke pedagang-pedagang bubur. Ternyata, usaha saya mandeg. Saya pun beralih menjadi sopir omprengan. Bentuknya bukan seperti angkot ataupun mikrolet zaman sekarang, masih berupa pick-up yang belakangnya dikasih terpal. Saya menjalani rute Kampung Melayu - Pulogadung - Cililitan.
Tahun 1985, saya pulang ke kampung halaman. Pada 25 Desember tahun itu, saya menikah dengan perempuan sedaerah, Made Arsani Dewi. Oleh karena cinta kami bertaut di Jakarta, kami memutuskan kembali ke Ibu Kota untuk mengadu nasib. Kami membeli rumah mungil di daerah Pondok Kelapa. Waktu itu saya bisnis mobil omprengan. Awalnya berjalan lancar, tapi karena deflasi melanda tahun 1986-an, saya pun jatuh bangkrut. Kerugian makin membengkak. Saya harus menjual rumah dan mobil. Lalu, saya hidup mengontrak.
NYARIS TERSAMBAR PETIR
Titik cerah muncul di tahun 1990. Saya pindah ke Perumnas Klender. Tanpa sengaja, saya melihat orang berjualan burger. Saya pikir, tak ada salahnya mencoba. Saya nekad meminjam uang ke bank, tapi tak juga diluluskan. Akhirnya saya kesal dan malah meminjam Rp 1,5 juta ke teman untuk membeli dua buah gerobak dan kompor.

Bahan-bahan pembuatan burger, seperti roti, sayur, daging, saus, dan mentega, saya ecer di berbagai tempat. Dibantu seorang teman, saya menjual burger dengan cara berkeliling mengayuh gerobak. Burger dagangannya saya labeli Lovina, sesuai nama pantai di Bali yang sangat indah.
Banyak suka dan duka yang saya alami. Susahnya kalau hujan turun, saya tak bisa jalan. Roti tak laku, Akhirnya, ya, dimakan sendiri. Masih untung karena istri saya bekerja, setidaknya dapur kami masih bisa ngebul. Pernah juga gara-gara hujan, saya nyaris disambar petir. Ketika itu saya tengah memetik selada segar di kebun di Pulogadung. Tiba-tiba hujan turun diiringi petir besar. Saya jatuh telungkup hingga baju belepotan tanah. Rasanya miris sekali.
Di awal-awal saya jualan, tak jarang tak ada satu pun pembeli yang menghampiri, padahal seharian saya mengayuh gerobak. Mereka mungkin berpikir, burger itu pasti mahal. Padahal, sebenarnya tidak. Saya hanya mematok harga Rp 1.700 per buah. Baru setelah tahu murah, pembeli mulai ketagihan. Dalam sehari bisa laku lebih dari 20 buah.
Untuk mengembangkan usaha, saya mengajak ibu-ibu rumah tangga berjualan burger di depan rumah atau sekolah. Mereka ambil bahan dari saya dengan harga lebih murah. Sungguh luar biasa, upaya saya berhasil. Dalam dua tahun, gerobak burger saya beranak menjadi lebih dari 40 buah. Saya pun pensiun menjajakan burger berkeliling dan menyerahkan semua pada anak buah.
Tak berhenti sampai di situ, tahun 1996 saya mencoba membuat roti sendiri dan membuat inovasi cita rasa saus. Seminggu berkutat di dapur, hasilnya tak mengecewakan. Saya berhasil menciptakan resep roti dan saus burger bercita rasa lidah orang Indonesia. Rasanya jelas berbeda dengan burger yang dijual di berbagai restoran cepat saji.

Hilangkan Kebodohan Dalam Diri Karna Manusia Tidak Ada Yang Bodoh

Saya berkenalan dengan Adam Khoo via Pak Tung Desem Waringin. Persisnya lewat buku Pak Tung: “Financial Revolution.“ Di buku hebat itu, Pak Tung memberi contoh kesuksesan Adam Khoo. Saya kemudian sangat beruntung bisa membeli buku Adam Khoo sendiri : ”Master Your Mind, Design Your Destiny”

Adam Khoo, orang Singapura. Waktu anak-anak, ia adalah penggemar berat games dan TV. Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV. Baik main PS atau nonton TV.

Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh. Ketika kelas empat SD, Ia dikeluarkan dari sekolah. Ia pun masuk ke SD terburuk di Singapura. Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh enam SMP terbaik di sana. Akhirnya, ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura.

Di awal SMP, kebiasaan Adam tidak berubah. Akibatnya, ia mendapat peringkat 10 terburuk. Bayangkan saudara, menjadi peringkat 10 terburuk di SMP terburuk. Bagaimana buruknya itu.

Usia 13 tahun, ia mengikuti suatu program dari Ernest & Young. Dalam program itu, ia belajar apa yang namanya Neuro Linguistic Programme (NLP), Accelerated Learning, dan sebagainya.

Program ini benar-benar bermanfaat bagi Adam. Ia mulai mempraktekkan keterampilan barunya. Apa yang ia lakukan setelah kembali ke sekolah?

Pertama ia menulis tujuannya. Ia akan lulus dari SMP tersebut dengan nilai A semua. Ia akan masuk ke Victoria Junior College. SMU terbaik di Singapura. Adam kemudian melakukan tindakan gila. Ia umumkan tujuannya itu di depan kelasnya. Apa yang terjadi? Ia ditertawakan seluruh isi kelas. Termasuk gurunya sendiri.

Bila anda jadi gurunya, anda pun mungkin melakukan hal yang sama. Bagaimana mungkin seorang yang berada di urutan 10 terburuk di SMP terburuk ingin lulus dengan nilai A semua dan masuk ke SMU terbaik.

Tapi Adam tidak bergeming. Tertawaan dan cemoohan guru dan teman-temannya ia jadikan sebagai sumber semangat. Ia pikir, bila ia tidak bisa membuktikan kata-katanya, ia akan lebih ditertawakan lagi.

Karena itu, Adam berusaha keras. Ia gunakan semua cara belajar hebat yang ia dapat dari program Ernest & Young. Hasilnya luar biasa. Adam mulai bisa menjawab pertanyaan di kelas. Meski ia tetap ditertawakan karena membuat catatan pelajaran dengan cara yang beda dan aneh. Ia gunakan peta pikiran yang penuh dengan gambar dan simbol untuk mencatat.

Akhirnya keras keras dan tekad baja Adam membuahkan hasil. Ia lulus dari SMP itu dengan nilai A semua. Ia berhasil masuk ke Victoria Junior College. Di SMU terbaik ini pun, Adam tetap menjadi yang terbaik. Ia lulus dari Victoria Junior College dengan nilai A semua dan sebagai lulusan terbaik.

Adam pun masuk ke National University of Singapore (NUS). Universitas terbaik di Singapura. Di NUS, ia berhasil masuk ke NUS Development Program. Inilah program bagi mahasiswa Top One Percent. Mahasiswa dengan prestasi akademis yang sempurna. Program bagi para jenius. Dari NUS, Adam lulus juga sebagai lulusan terbaik.

Itulah kesuksesan Adam di dunia akademisnya. Bagaimana dengan dunia bisnis? Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun. Ia telah memiliki empat bisnis dengan total nilai omset per tahun US$ 20 juta.

Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia berbisnis music box. Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar. Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura. Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura. Bayarannya mencapai US$ 10.000 per jam.

Nah, sekarang mari kita merenung. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Adam Khoo. Bagaimana seorang anak yang dicap bodoh, hobinya nonton TV dan main games bisa meraih sukses seperti itu? Sukses yang mungkin sekali tidak diraih oleh teman-teman seangkatannya. Teman-teman yang di SD-nya pintar?

Saya mencatat, ada tiga hal besar yang menjadi kunci sukses Adam Khoo. Tiga kunci sukses ini pun yang menhantarkan siapapun meraih sukses. Nah, sebutlah orang sukses yang anda kenal. Dan perhatikan, bagaimana kondisi tiga hal berikut ini pada diri orang sukses itu:

1. Tujuan yang Jelas
2. Keyakinan yang Benar dan Kuat
3. Aksi yang tepat

Mari kita bahas satu per satu

1. Tujuan yang Jelas

Tujuan Adam jelas. Ia ingin mendapat nilai A untuk semua mata pelajarannya. Ia pun sangat jelas menginginkan masuk ke Vistoria Junior College dan National University of Singpore. Ketika berbisnis, Adam pun membuat tujuan yang jelas. Ia menetapkan berapa penghasilan yang ingin ia peroleh.

Tujuan yang jelas mempunyai kekuatan yang luar biasa. Dengan tujuan yang jelas, orang ‘bodoh’ lainnya, Thomas Alva Edison berhasil menemukan bola lampu dan mempatenkan 1000 lebih inovasi. Tujuan itu lah yang membuat Edison bisa bertahan pada setiap kegagalan yang terjadi. Ia gagal dalam mencoba 10.000 jenis logam untuk bola lampunya. Bukannya menyerah, Edison justru mengatakan :”Saya tidak gagal 10.000 kali. Saya telah sukses 10.000 kali untuk mengetahui jenis logam yang tidak berfungsi.

Saya yakin anda ingin sukses. Langkah pertama menuju kesana adalah TETAPKAN dan TULISKAN TUJUAN ANDA. Buat tujuan yang jelas. Misalnya pendapatan. Jangan buat tujuan : “Saya ingin mempunyai pendapatan sebesar-besarnya” kenapa begitu? Karena tujuan di atas tidak jelas. Untuk merubahnya menjadi jelas, anda cukup mengganti sebesar-besarnya dengan angka yang anda kehendaki. Misalnya Rp. 100 juta per bulan. Jadi tulisan tujuan anda akan menjadi: “Saya ingin mempunyai pendapatan Rp. 100 juta per bulan.”

Jangan juga gunakan kata “tidak”. Jangan membuat tujuan : “Saya tidak mau miskin lagi” tujuan ini, meski benar, tapi menggunakan kata-kata yang negatif. Jadi aroomanya juga negatif. Dan sering kali apa yang tidak diinginkan itu justru benar-benar terjadi. Kalau anda bila tidak mau miskin, mungkin anda akan tetap miskin. kenapa begitu? Karena otak anda hanya merekam kata miskin itu.
Contoh mudah begini. Sekarang, saya harap anda bisa membaca kalimat di bawah ini dan melakukannya:

“JANGAN BAYANGKAN SEEKOR MONYET YANG SEDANG NAIK SEPEDA”
Apa yang terjadi? Apakah anda justru membayangkan monyet yang sedang naik sepeda? Padahal tulisan di atas justru melarangnya.
Hal sama terjadi dengan peringatan : “Jangan Membuang Sampah di Sini“. Apa yang terjadi di areal dengan tanda peringatan itu? Banyak sampahnya, pasti.

Supaya lebih jelas, buat juga tujuan anda dengan batasan waktu tertentu. Misalnya: “Saya ingin mempunyai pendapatan Rp. 100 juta dalam enam bulan ke depan.”

Tujuan yang tajam seperti ini sangat berguna. Apa gunanya? Ia akan memaksa pikiran anda untuk benar-benar memikirkan cara yang efektif untuk mencapainya. Artinya anda berpikir lebih keras lagi. Pikiran yang lebih keras akan memaksa tindakan yang lebih keras juga. Tindakan yang yang lebih keras akan mendatangkan hasil yang lebih baik juga.

Misalnya sekarang, ketika anda baca buku ini. Katakanlah anda membacanya di rumah. Nah, sekarang praktekkan apa yang tertulis di bawah ini:

ANDA HARUS LONCAT DAN MENYENTUH PLAFON.

Apa yang anda pikir? Kemungkinan besar anda akan berpikir: Tidak mungkin saya bisa loncat dan menyentuh plafon di atas itu. Oke. Tidak apa-apa.

Sekarang, praktekkan lagi apa yang tertulis di bawah ini:

“ANDA HARUS LONCAT DAN MENYENTUH PLAFON. KALAU TIDAK BISA, ANDA AKAN DITEMBAK MATI.”

Bila benar-benar sebuah pistol menempel di pelipis anda dan siap ditembakkan, apa yang akan anda pikirkan? Kemungkinan besar anda akan berpikir jauh lebih keras dari kasus yang pertama tadi.

Anda tidak ingin kehilangan nyawa anda. Karena itu anda berpikir lebih keras. Setelah itu anda mungkin berpikir :”Oh, saya taruh kursi ini di meja. Saya naik ke atas kursi. Setelah itu saya loncat. Pasti bisa menyentuh plafon.”
Nah, anda dapat jawabannya. Itu karena anda berpikir lebih keras. Meski sebabnya bukanlah sesuatu yang anda inginkan. Bahkan itu adalah sesuatu yang menakutkan.

Itulah hebatnya tujuan yang jelas. Ia bisa menggerakkan seseorang. Ia memotivasi orang. Motivasi penting. Tanpa motivasi, manusia akan seperti zombie. Mayat berjalan.

Tujuan itu ada dua. Pertama, mendapat kesenangan. Kedua, menghindari derita. Survei membuktikan bahwa tujuan yang kedua (menghindari derita) jauh lebih kuat dari tujuan yang pertama (mendapat kesenangan).

Contoh mudahnya begini. Mana yang lebih berpengaruh pada anda? Mendapat uang Rp. 10 juta? Atau kehilangan uang Rp. 10 juta? Saya yakin sekali, anda akan lebih terpengaruh oleh kehilangan uang Rp. 10 juta itu.

Itulah sebabnya, banyak orang kaya berasal dari orang miskin. Mereka telah merasakan sakitnya miskin. Mereka tidak mau terus sakit. Itu sebabnya mereka berjuang habis-habisan keluar dari kemiskinan.

Tapi, banyak juga orang miskin yang ‘betah’ dalam kemiskinan. Sampai akhirnya mereka meninggal dalam keadaan miskin. Rasa sakit karena miskin itu tidak cukup kuat untuk membuat mereka berjuang habis-habisan. Mereka telah belajar untuk ‘menikmati’ rasa sakit karena miskin.

2. Keyakinan yang Benar dan Kuat

Adam Khoo sukses salah satunya karena ia merubah keyakinannya. Ketika ia dicap bodoh, ia yakin bahwa ia bodoh. Ia pun melakukan hal-hal bodoh. Terlalu banyak nonton TV dan main games.

Tapi hasil pelatihannya menunjukkan bahwa keyakinan itu SALAH BESAR. Ia pun mulai membangun keyakinan yang BENAR BESAR.

Keyakinan yang benar itu adalah bahwa ia justru orang yang sangat cerdas. Ia pun meninggalkan tindakan bodohnya. Ia melakukan hal yang benar. Hasilnya luar biasa. Adam bisa merubah peringkatnya. Dari peringkat 10 terburuk jadi terbaik.

Itulah hebatnya keyakinan. Itu pula sebabnya mengapa semua orang sukses mempunyai keyakinan seperti Adam Khoo. Keyakinan yang benar dan kuat.

Semua orang bisa sukses adalah keyakinan yang benar. Sukses tidak ditentukan oleh jenis kelamin, warna kulit, pendidikan, usia, agama, ras, suku, orang tua, bangsa, lokasi, dan sebagainya. Sukses hanya ditentukan oleh tiga hal besar. Tiga hal yang sedang kita bahas ini. Tujuan, keyakinan, aksi.

Karena itu, mulai sekarang, bangunlah keyakinan yang benar. Apa pun, siapa pun, bagaimana pun situasi dan kondisi anda. Anda bisa sukses. Saya malah yakin, setiap anda ditakdirkan sukses.

Keyakinan juga harus kuat. Keyakinan salah tapi kuat akan mengalahkan keyakinan benar tapi lemah. Misalnya anda yakin bahwa anda bisa sukses. Tapi orang-orang sekeliling anda mengatakan sebaliknya.

Nah, mana yang lebih kuat pengaruhnya? Keyakinan benar anda atau keyakinan salah orang-orang di sekeliling anda? Bila anda tetap bertahan pada keyakinan anda, berarti keyakinan anda kuat. Bila anda mengikuti orang-orang di sekeliling anda, berarti keyakinan anda yang benar itu ternyata lemah.

Ada satu hal yang harus saya peringatkan berkaitan dengan keyakinan, yaitu:

Jangan Memaksakan Keyakinan Anda Pada Orang Lain Yang Berkeyakinan Berbeda.

Jadi, anda hanya mengungkapkan keyakinan anda sendiri. Alasan-alasan keyakinan anda. Dan anda selalu siap mendengarkan keyakinan orang lain yang beda itu. Jadikan perbedaan keyakinan itu sebagai berkah.

Jangan meributkan perbedaan keyakinan itu. Lebih baik anda mencari persamaan dengan orang lain. Pasti lebih banyak manfaatnya. Baik bagi anda maupun orang lain. Misalnya beda keyakinan. Tapi tujuan sama. Anda tinggal ucapkan: “Sampai jumpa di tujuan kita, ya.“

3. Aksi yang tepat

Tujuan yang jelas, keyakinan yang benar dan kuat memerlukan aksi yang tepat. Tujuan yang jelas tanpa aksi yang tepat percuma saja. Sang tujuan pasti tidak tercapai.

Misalnya anda menetapkan tujuan: “Mendapat pendapatan Rp. 10 juta per bulan“. Tapi setiap hari anda hanya nonton TV. Pasti tujuan jelas anda itu tidak akan tercapai.

Demikian juga dengan keyakinan yang benar dan kuat. Tanpa aksi, keyakinan itu tidak akan membuat anda mencapai tujuan. Jadi, anda benar-benar membutuhkan aksi untuk mencapai tujuan.

Misalnya anda lapar. Tujuan anda adalah menjadi kenyang. Anda yakin di lemari makan ada makanan. Anda juga yakin anda bisa mengambil dan memakannya. Tapi anda tidak bergerak. Apakah anda akan kenyang? Pasti tidak.

Jadi, apakah aksi lebih penting dari tujuan dan keyakinan? Jelas tidak. Tanpa tujuan, aksi anda tidak akan menghasilkan apa-apa. Anda akan seperti mayat berjalan tanpa tujuan. Tanpa keyakinan, anda pasti diliputi keraguan dan ketakutan. Keraguan dan ketakutan justru membuat anda tidak bertindak sama sekali.

Aksi yang tepat ada tiga. Pertama, belajar. Kedua, praktek apa yang telah dipelajari. Ketiga, evaluasi.
Misalnya anda ingin menjadi pebisnis sukses dengan penghasilan Rp. 100 juta per bulan. Maka anda harus belajar. Apa yang anda pelajari? Anda harus belajar apa-apa saja yang anda perlukan untuk jadi pebisnis sukses. Anda harus belajar tentang ide bisnis, marketing, produk, komunikasi dengan mitra bisnis dan sebagainya.

Setelah belajar pada tahap tertentu, langsung praktekkan. Dengan praktek, anda akan tahu, apakah hasil belajar anda telah cukup atau tidak. Bila cukup, maka anda akan mencapai tujuan anda. Bila ini yang terjadi, anda harus membuat tujuan baru. Dan belajar lagi.

Bila belum cukup – berarti tujuan anda belum tercapai – maka anda harus evaluasi diri. Apa yang masih kurang itu? Bila sudah tahu, anda harus belajar lagi. Begitu terus sampai tujuan anda tercapai. Itulah aksi yang tepat.

Bagaimana anda bisa belajar dengan lebih baik? Ada satu rumus yang bagus. Belajar lah dari orang-orang yang sudah sukses.

Contoh sederhana bila anda ingin naik ke puncak gunung untuk pertama kalinya. Mana yang lebih baik? Anda naik bersama teman-teman yang belum pernah naik gunung juga? Atau naik gunung bersama orang yang sudah pernah naik gunung sampai ke puncaknya? Pasti yang disebut terakhir lebih baik.

Karena itu belajar lah dari orang yang telah sukses. Ingin jadi artis sukses, belajar dari artis sukses. Ingin jadi pebisnis sukses, belajar dari pebisnis sukses. Kemungkinan suksesnya pasti jauh lebih besar. Selamat beraksi. Belajar. Praktekkan. Evaluasi.

Hilangkan Rasa Ragu Dalam Hidup Ini

Di suatu sore aku melangkah,
dan tak kusangka, aku bertemu dengan salah satu temanku, ia sering mampir dalam hidupku.
“Assalamu’alaikum kegagalan”ucapku ramah.
Aku berbincang cukup lama dengannya, kangen katanya.
Dan tiba-tiba ia bertanya,
“apakabar keraguan? Sudah seminggu aku tidak bertemu dengannya.”Tanya kegagalan padaku.
“oh, baru saja aku bertemu dengannya, sebelum kau, kami bertemu di rapat kegiatan.”jawabku sambil memandang langit.
“hm.. apa yang terjadi?”tanyanya lagi.
“yah, seperti biasa, tak hanya satu tapi banyak keraguan-keraguan disana, aku hanya bisa berusaha, meski aku benci keraguan dan tak ingin bertemu dengannya, tapi aku yakin itu adalah peluang/ kesempatan untukku memperbaiki diri. Aku tak menantangnya, tapi ia tantangan bagiku.”paparku pada kegagalan.
“bagus kalau begitu, karena kalau kau menyerah dan membiarkan keraguan menyakitimu, aku takkan segan-segan menghampirimu lagi dan lagi”
“kau tahu tidak, ketika bertemu dengan mu aku yakin bahwa Allah mengirimkanmu agar kesuksesan yang nanti kuraih akan terasa lebih manis!”
“jadi kau tak menyesali pertemuan kita?”
“insyaAllah tidak, karena aku tahu aku yang akan memutuskan apakah hari ini aku akan bahagia atau tidak. syukran kegagalan, senang berjumpa denganmu.”
“akupun senang bertemu denganmu, begitu banyak orang di bumi ini yang tidak menyukaiku, mengutukiku, dan bahkan tak dapat mengambil sesuatu apapun dari ku.”
Adzanpun berkumandang, “Allahuakbar Allahuakbar…”
“afwan kegagalan, aku harus pergi, aku tak ingin berlama-lama dengan mu, karena aku tak ingin gagal dalam pertemuanku dengan-Nya nanti, assalamu’alaikum.”pamitku.
“wa’alaikumsalam.”
Kecil-kecil Jadi Mufti
Lahir di Ghuzah di daerah Palestina. Beliau adalah imam syafi’i. beliau suka mencari ilmu meski dalam keadaan miskin papa. Beliau sering kesulitan unruk sekedar membeli perlengkapan belajar. Beliau sering mencari tulang-tulang dan mengumpulkannya dari jalan guna ditulisi di atasnya ilmu pelajaran yang diperolehnya dari belajar. Seringkali pula beliau datang ke kantor-kantor pemerintahan, mencari kertas-kertas untuk menulis catatan pelajaran yang telah diperolehnya. Ketika kemudian hari catatannya terlalu banyak dan memenuhi bilik rumahnya maka beliaupun menghafalkannya. Sejak saat itu, beliau sangat rajin menghafalkan ilmu yang telah diperolehnya. Ketika orang-orang bertanya, bagaimana cara beliau menuntut ilmu maka dijawabnya:
“Bagaikan seorang perempuan yang kehilangan anaknya, padahal ia tidak memiliki anak selainnya.”
Pada usia 9 tahun beliau telah hafal Al-Qur’an 30 juz di luar kepala. Kemudian pada usia 10 tahun, beliau sudah hafal luar kepala kitab Al-Muwattho Imam Maliki. Kemudian beliau diperbolehkan memberi fatwa pada umur 15 tahun, yang pada saat itu beliau sudah menduduki jabatan sebagai guru besar dan mufti di Masjidil Haram.
4 Hari Sekolah, Dikenang Sepanjang Masa
Ia hanya sekolah selama empat hari. Sampai akhir hayatnya ia tak bisa membaca, dikarenakan ia menderita disleksia, dimana penderitanya bisa mengenali huruf, tetapi tidak bisa merangkainya. Sehingga ia tidak bisa membaca. Di kelas ia dituduh sebagai siswa yang bodoh. Guru-gurunya sangat kesal padanya. Diajari hal yang mudah saja tidak bisa. Apalagi hal-hal rumit. Baginya, sekolah amat menyiksa. Ia merasa tak berarti apa-apa, bahkan merasa direndahkan. Guru-gurunya tidak tahu jikalau ia menderita gangguan langka disleksia. Iapun hanya bertahan empat hari di sekolah. Setelah itu ia belajar di rumah. Untungnya, ibunya sangat menyayanginya dan mengerti kondisinya. Ia pun diajari dengan sangat sabar dan telaten. Karena pada dasarnya cerdas, maka pelajaran sederhana dari sang ibu berhasil membuatnya ‘menggelora’. Ia terus mencoba hal-hal baru yang diketahuinya. Itu sebabnya ia membangun laboraturiumnya sendiri.
Banyak waktu yang ia habiskan di lab itu. Ia terus mencoba dan mencoba. Tahun berganti tahun. Iapun tumbuh menjadi peneliti yang hebat. Sampai akhirnya karya fenomenalnya lahir. Setelah perjuangan berat selama bertahun-tahun.setelah ribuan kali kegagalan yang ia alami. Ia pun menemukan masterpiece-nya. Ia adalah Thomas Alfa Edison. Sang penemu bola lampu. Ia telah membuktikan bahwa kekuatan tekad dan keyakinan telah membuatnya sukses. Bagaimana jika ia, setelah dikeluarkan dari sekolah, terus mengurung diri dan membenarkan perkatan guru dan teman-temannya bahwa ia seorang anak yang bodoh. Ia pasti tidak akan dikenang sepanjang masa. Ia akan menjadi manusia biasa-biasa saja. dan mungkin bahkan menjadi orang yang mencari dan patut dikasihani. Bukan tidak mungkin ia menjadi pengemis atau perampok.
Tapi Edison memilih hal yang berbeda. Ketika sekolah tidak lagi mau menerimanya belajar, ia berbalik arah. Ia belajar di tempatnya sendiri. Ketika sekolah memaksanya untuk belajar dengan metoda yang sama, ia memilih untuk belajar dengan metoda yang pas bagi dirinya. Ketika sekolah mengatakan dirinya bodoh, ia tidak mau menerimanya.ia buktikan bahwa ia cerdas luar biasa. Ia memang tak bisa membaca huruf demi huruf, tapi ia bisa membaca sesuatu yang lebih hebat dari itu.
Ketika Edison menemukan bola lampu, perjalanan ke sana menjadi perjalanan yang fenomenal. Cerita Edison yang gagal mencoba 10000 jenis logam untuk bola lampunya telah menjadi legenda. Ia tidak mengatakan bahwa ia gagal 10000 kali. Ia justru berkata: “saya telah berhasil menemukan 10000 jenis logam yang salah untuk bola lampu.”
Peringkat 10 Terbawah di SMP Terburuk, usia 26 Tahun Jadi Milyader
Ini adalah cerita tentang seorang anak Singapura yang dicap bodoh, namanya Adam Khoo. Sewaktu SD, seperti anak-anak seusianya, ia gemar bermain Play Station dan game-game lain di komputer. Selain nonton TV tentunya. Prestasi di sekolahnya jeblok. Ia memang tidak suka belajar dan akhirnya dikeluarkan dari SD. Ketika melamar ke berbagai SD, ia selalu ditolak. Dan pada akhirnya iapun masuk ke sekolah yang terburuk. Ketika lulus SD, ia melamar ke SMP-SMP terbaik di Singapura. Tapi enam SMP terbaik menolaknya. Dan seperti ketika ia melamar di SD, iapun hanya diterima di SMP terburuk di Singapura. Adam pun mendapat peringkat 10 terburuk di SMP terburuk itu.
Di usia 13 tahun, Adam mengikuti sebuah pelatihan. Inilah pelatihan yang merubah hidupnya. Inilah titik balik hidupnya, sehingga ia mendapat keyakinan baru. Keyakinan bahwa ia bisa sukses, bila ia menetapkan apa itu sukses, mempunyai keyakinan untuk meraihnya, dan bertindak dengan benar.
Kembali ke sekolah, ia mengumumkan tujuan-tujuan hidupnya. Pertama, ia akan mendapatkan nilai A untuk semua mata pelajaran. Kedua, ia akan masuk ke Victoria Junior College, SMA terbaik di Singapura. Ketiga, ia akan berkuliah di National University of Singapore (NUS), Universitas terbaik di Singapura. Pengumuman ini menggegerkan sekolah. Bagaimana tidak, seorang yang berada di peringkat 10 terburuk di SMP terburuk punya target seperti itu? Semua orang menertawakannya, bahkan meledeknya. Semua orang menganggapnya gila. Yah, Adam memang telah ‘gila’. Kegilaanya ini yang kemudian mengantarnya pada kesuksesan luar biasa.
Adam mulai menggunakan teknik baru dalam belajar. Ia menggunakan accelerated learning dan whole brain learning. Ia mencatat, mengingat, dan menghapal dengan cara yang berbeda. Iapun bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di kelas. Adam cuek aja ketika guru dan teman-temannya heran melihat catatan pelajarannya penuh dengan gambar. Pada saat pembagian rapor, kata-kata Adam terbukti. Nilainya A semua, dan prestasi ini terus diulanginya. Iapun menjadi lulusan terbaik. Bayangkan dari peringkat 10 terburuk menjadi peringkat 1 terbaik. Target pertama tercapai.
Adam pun mulai melamar ke Victoria Junior College dan diterima. Hal itu tidak saja menjadi prestasi bagi Adam, akan tetapi juga menjadi sejarah bagi SMP-nya. Adamlah orang pertama dari SMP itu yang berhasil masuk ke SMA terbaik. Ia mengulangi kisah suksesnya di SMA Victoria dan pada akhirnya berhasil masuk ke National University of Singapore. Bukan itu saja, ia bisa masuk ke program top 1% (Program untuk orang-orang jenius) di NUS.
Itulah Adam. Berbagai cemoohan tidak membuatnya menciut. Berbagai ketidakpercayaan orang lain tidak membuatnya surut kebelakang. Berbagai tantangan dan masalah yang datang, tidak membuatnya berhenti. Ia justru semakin bersemangat dengan adanya banyak tantangan dan masalah itu.
Allah Kabulkan Semua Impianku…
Ia adalah Danang Ambar Prabowo peraih peringkat pertama mahasiswa berprestasi tingkat nasional. Danang mendapatkan nilai tertinggi atas presentasi makalah yang berjudul “Prospek Biofuel dari Tropical Marine Microalgae untuk mengatasi Krisis Energi dan Pemanasan Global. Danang berhasil mengalahkan 15 finalis Mahasiswa Berprestasi (MAWAPRES) dari berbagai perguruan tinggi.
Berawal dari keikutsertaannya pada acara Achievement Motivation Trainer (AMT), ia menjadi terinspirasi untuk mencapai hal-hal yang menakjubkan yang semula hanya terlintas di mimpi belaka. Sang trainer pun berkata.
“banyak orang yang memiliki mimpi, namun mimpinya itu akhirnya tetap menjadi impian belaka. Alasannya adalah karena mereka menuliskan mimpi-mimpi mereka dalam ingatan saja. padahal ingatan manusia itu terbatas. Akibatnya kebanyakan dari mereka itu lupa dengan mimpinya.dan ketika ingat kembali, waktu mereka telah habis, dan hanya penyesalan yang dirasa. Ubah! Ubah cara pandang anda! Ubah bagaimana anda menuliskan mimpi-mimpi anda. Jangan menulis dalam ingatan anda yang terbatas, karena hal itu ibarat anda menulis di atas pasir. Ketika angin bertiup, hilanglah tulisan itu. Tuliskan secara nyata. Di atas kertas. Tuliskan mimpi-mimpi anda di atasnya. Tempatkan dimana anda akan sering melihatnya. Jika anda ragu… tulis saja 100 target yang ingin anda capai selama di IPB!”
“…dan nanti anda akan lihat. Bagaimana luar biasanya Allah mewujudkan setiap mimpi-mimpi indah itu, jauh lebih luar biasa daripada yang bisa anda bayangkan…tuliskan segera, dan suatu hari, yang akan anda lihat dari tulisan anda itu hanyalah coretan-coretan. Coretan karena anda telah mencapainya…”
Dan itulah yang Danang lakukan. Di atas dua lembar kertas buram, ia menuliskannya. 100 target. Target-target sederhana hingga impian-impiannya, tanpa banyak berpikir rumit, ia benar-benar menuliskan apa yang terlintas dipikirannya saat itu. Namun tak sedikit yang berkomentar, setiap kali melihat target-target yang ia tulis. Ada yang bilang ia kurang kerjaan, sombong, bahkan tidak realistis. Setelah begitu banyak komentar akhirnya Danang melepas dua lembar kertas itu dan memindahkannya di atas tempat tidur, sehingga setiap akan tidur atau bangun pagi ia bisa melihatnya. Setidaknya komentar-komentar itu tak terdengar lagi setelah itu.
Ia baru benar-benar menyadari bahwa dua lembar kertas itu kini sudah begitu usangnya…using oleh berbagai masam coretan-coretan di atasnya, dan using oleh keringat tangan setiap kali memegangnya. Tapi yang pasti, setiap ia melihatnya, yang bisa dikatakan adalah “subhanallah…Luar biasa…”apa yang telah ia tulis, yang dahulu begitu banyak yang mencemooh dan meremehkan, kini satu persatu tanpa ia sadari benar-benar terwujud.
Mahasiswa Berprestasi yang pada awalnya ia dengar dari seorang rekan dan terinspirasi dari majalah-majalah mahasiswa. Ternyata, tanpa disangka, ia bisa mencapainya, bahkan hingga tingkat nasional dan menjadi terbaik dari yang terbaik.
Dan kini ketika menatap dua lembar kertas using itu…delapan puluh tiga…ya…target nomor 83 bertuliskan “aku ingin melanjutkan sekolah keluar negeri setelah tamat dari IPB!” tapi tahukah apa yang terjadi? Belum, tamat dari IPB, ia mendapat tawaran untuk berkuliah di Jepang. Saai ini ia terdaftar sebagai One Year Short Term Exchange Student di Departement of Applied Biochemistry, Utsunomiya University, Jepang, periode 2007-2008. Subhanallah….
Yup, seorang pembelajar adalah seseorang yang semestinya meyakini bahwa sepanjang waktu hidupnya adalah laboraturium hidup raksasa. Ketika ia bertemu kegagalan, ia semestinya yakin bahwa Allah mengirimkannya agar kesuksesan yang nanti diraihnya terasa lebih manis. Ketika ia bertemu dengan orang-orang yang menyangsikannya, maka ia yakin bahwa itu adalah kesempatan untuk bisa lebih memperbaiki diri. Dan ingatlah, tak ada sesuatu apapun di dunia ini yang dapat menggantikan ketekunan. Bakatpun tidak; tidak ada yang lebih biasa dari kenyataan bahwa banyak orang yang tidak berhasil walaupun ia punya bakat besar. Jenius juga tidak; seorang jenius yang tidak dihargai lebih mirip sebuah pepatah. Pengajaran juga tidak;dunia sudah penuh dengan orang-orang berpendidikan yang lalai akan tugasnya. Kekayaan pun tidak. Ketekunan (kesungguhan) adalah penentu dari semuanya. So, yakin dan percayalah bahwa kita bisa sukses. Dan kita akan segera menjadi bagian dari siapa-siapa…. (shona ve)
Sumber bacaan:
Jannah, Izzatul. 2004. Bertualang ke Zona Pembelajar, The Way to Success. Solo: Era Eureka.
Lee, supardi. 2007. Achiever (masih muda bisa sukses). Jakarta: Pustaka Inti.
Majalah tasbih. Edisi jumadil awal 1429 H; vol. 7, No. 5.

Tentang Orang Cerdas Akuntansi


Alumni People And Profile

: 0800780523
: SYELVY
: 2004
: Akuntansi
: Auditor
: Ernst & Young

Masuk di Bina Nusantara, mengambil Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi. Diwisuda dan dinyatakan lulus secara resmi pada bulan November 2008.

Mengawali karir tahun 2006, di Bina Nusantara sebagai Assistant Lab Akuntasi.
"Sejak awal menjadi assistant Lab Akuntansi, saya selalu mendapatkan penghargaan sebagai Assisstant Award yang diselenggarakan oleh Lab Akuntansi setiap semesternya."

Di Tahun 2007 diterima di Bina Nusantara sebagai Assistant R&D. Selama setahun menjalani pekerjaan sebagai Assistant Lab akuntansi merangkap sebagai Assitant R&D. Berhenti bekerja sebagai Assistant R&D per 1 September 2008.

Selama masa kuliah, saya mulai mendapatkan penghargaan Mahasiswa Berprestasi sejak semester kedua hingga semester tujuh akhir perkuliahan. Memasuki semester lima saya mulai mengikuti lomba-lomba akuntansi yang diadakan oleh Universitas di seluruh Indonesia (secara bergantian).

Dari mengikuti lomba tersebut saya berhasil mendapatkan dua kali juara :
Juara 1 Bina Nusantara National Accounting Tournament, dan Petra National Accounting Tournament, dan
Juara 3 Parahyangan National Accounting Tournament.
Karena kemenangan tersebut, Bina Nusantara mengundang saya ke Apreciation Night dan memberikan penghargaan dari Rektor atas prestasi saya tersebut.

Sekarang ini saya telah bekerja di salah satu perusahaan Akuntan Publik (Big Four) di Indonesia yaitu Ernst & Young. Saya bekerja di perusahaan ini sejak 8 September 2008.  

Pengalaman Kuliah Di NUS

Peristiwa tewasnya David Hartanto Widjaya (22), yang diduga bunuh diri setelah menusuk dosen pembimbingnya Profesor Chan Kap Luk (40), menyentakkan masyarakat Indonesia maupun Singapura. Apalagi disebut-sebut David berbuat nekat lantaran stres terlilit masalah skripsi. Seperti apa ketatnya kuliah di Singapura?

ADA dua universitas terkenal di Singapura, yaitu National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU). Kedua universitas tersebut memiliki kampus yang besar. Luas area NUS 150 Ha, sehingga dari satu fakultas ke fakultas lainnya menggunakan transportasi bus. Saya ingin berbagi pengalaman ketika kuliah di NUS program pascasarjana di Fakultas Institute of Systems Science jurusan Systems Analysis. Untuk bisa diterima di NUS tidaklah gampang, harus melalui saringan pendahuluan melalui ijazah SMP, SMA dan S-1, kemudian tes masuk dan interview. Proses seleksinya sangatlah ketat. Saya berkenalan dengan orang Vietnam ketika mengikuti ujian masuk NUS pada Juli 2007. Dia telah mengikuti ujian masuk selama 2 tahun berturut–turut, dan kala itu yang ke-3 kalinya, tetapi tetap saja tidak diterima.

Saya jadi teringat dengan ujian masuk NUS di mana saya harus menyelesaikan 100 soal terbagi dalam 4 bagian yang harus diselesaikan dalam 2 jam. Pertama kali saya melihat semua soal itu rasanya tidak mungkin bisa selesai semua, tetapi ketika saya baru selesai mengerjakan soal yang terakhir (ke-100) pas waktunya juga habis dan kalau ada yang masih menulis langsung dinyatakan fail.

Ketika saya dan teman-teman dari Indonesia berjumlah 6 orang -dari 90 mahasiswa yang diterima untuk program yang saya ambil pada 2007- NUS menempati posisi nomor 1 sebagai universitas terbaik di Asia, dan menempati urutan 19 untuk skala dunia. Tentu saja saya senang sekali bisa diterima di universitas bergengsi yang didirikan tahun 1929 itu. Tetapi tidak pernah terbayang akan betapa beratnya perjuangan yang harus saya tempuh.

Hari pertama masuk kuliah kami mendapat orientasi dan setelah makan siang langsung ada pelajaran selama 3 jam, dan hari itu juga sudah diberikan tugas kelompok. Kaget juga ketika mengetahui bahwa hari pertama kuliah saja sudah seperti ini.

Dalam briefing yang disampaikan di hari pertama masuk, dikatakan bahwa kuliah harus serius, jangan dikira kalau sudah berhasil masuk pasti lulus sampai selesai. Disampaikan juga kalau nilai rata-rata tidak mencukupi di akhir semester 2 (tidak memenuhi ketentuan kelulusan) maka harus keluar (drop-out). Oleh sebab itu kami diberi kesempatan untuk berpikir selama 1 minggu pertama masuk kuliah dan kalau ingin mundur, maka uang kuliah yang telah disetor akan dikembalikan.

Mereka tegas sekali sejak hari pertama, bahkan tidak segan–segan mengembalikan uang yang sudah diterima. Disampaikan pula bahwa kalau tidak berhasil lulus sesuai standar kelulusan maka hanya akan diberikan attendance letter.

Jadwal kuliah setiap hari (Senin–Jumat) mulai dari pukul 09.00 pagi sampai pukul 17.00  sore. Waktu istirahat makan siang 1 jam saja, seperti jadwal ngantor.

Hari kedua masuk pagi–pagi sudah disuruh group discussion bersama tim yang sudah mereka pilihkan buat kami. Tim ini terdiri dari 7-8 orang, dan akan diganti setiap semester. Setiap hari ada tugas kelompok, jadi biasanya dari jam 9.00 – 12.00 dosen menjelaskan pelajaran. Dari jam 13.00 – 17.00 kami harus buat tugas kelompok, biasanya disuruh presentasi sore itu juga, tetapi jika tugasnya agak berat diminta presentasi keesokan harinya.

Ada juga tugas semester (tugas kelompok juga) yang harus dibuat, biasanya diberi waktu 2-3 minggu. Namun selama 2-3 minggu itu setiap kelompok harus kerja lembur di kampus, hingga banyak yang bahkan sampai menginap di universitas karena memang tugas–tugas yang diberikan berat dan standar yang ditetapkan sangatlah tinggi. Pernah saya pulang ke rumah pukul 01.00 dinihari, dan keesokan harus bangun pagi untuk presentasi. Begitulah tuntutan kuliah di NUS.

Bahkan minggu pertama saya mulai kuliah saja, weekend masih harus ke kampus karena harus diskusi kelompok. Jadi sebenarnya sudah hampir setiap hari saya dan teman–teman di kampus, karena hampir setiap Sabtu dan Minggu harus membuat tugas bersama kelompok. Dan rata–rata saya dan teman–teman  menghabiskan 12 jam per hari di kampus, berarti  pulang ke rumah hanya untuk tidur dan mandi. Bisa dibayangkan betapa stresnya harus setiap hari seperti itu, dijejali tugas–tugas yang begitu banyak.

Jujur saja, saya merasa jenuh dengan tekanan dan stres pada  level yang seperti itu. Bahkan stres itu sampai terbawa mimpi, dan lucunya bukan hanya saya yang mengalaminya, teman saya pun mengalami hal serupa.

Meski kuliah begitu ketat, dosen-dosennya sangat profesional, mau memotivasi mahasiswa untuk berhasil, penilaiannya juga sangat objektif. Di sini tidak berlaku pepatah yang mengatakan: Tak kenal tak disayang. Jadi tidak ada istilah dosen killer. Hanya memang tuntutan standar belajar yang sangat tinggi yang membuat semua mahasiswa stres.

Untuk program saya, ujiannya open book yang berarti kami diperbolehkan membawa seberapa banyak buku yang kami mampu bawa. Pertama kali saya ujian, saya bawa buku banyak sekali bahkan saya membawa buku yang tidak pernah saya baca yang saya pinjam dari perpustakaan. Ternyata ketika ujian, satu buku pun tidak saya sentuh karena memang soal ujiannya banyak sekali dan berat juga sampai–sampai tidak memungkinkan untuk buka buku karena waktu tidak mencukupi dengan level dan jumlah soal seperti itu. Soal–soal ujian sengaja didesain untuk menilai sejauh mana pengertian kami dan jawaban-jawabannya pun tidak dapat kami temukan dalam buku tentunya. Ingin tertawa rasanya ketika mengingat pengalaman ujian pertama kali di NUS, saya bersusah-payah bawa buku berat–berat, ternyata saya mengerjakan ujian tanpa membuka satu buku pun. Dan yang paling mengecewakan adalah, waktu 3 jam untuk ujian tidak cukup untuk menyelesaikan semua soal, sehingga ada soal–soal terakhir yang tidak sempat saya kerjakan. Tetapi saya masih bersyukur bisa mendapat B untuk ujian pertama saya itu.

Ujian–ujian berikutnya saya sudah tidak mau bawa buku berat–berat karena saya sudah kapok dengan pengalaman ujian pertama itu.

Pada saat saya kuliah tahun 2007 biayanya S$ 6.600 (sekitar Rp 52,8 juta untuk kurs Rp 8.000) pertahun, tapi sekarang naik jadi S$ 9.900 (sekitar Rp 79,2 juta). Kami mendapat fasilitas text book, dan foto copy khusus di kelas gratis. Bahkan tersedia kopi dan teh gratis pula.

Saya bersyukur sekali bisa memiliki pengalaman kuliah seperti ini karena walaupun sangat stressful dan “full of pressures”, saya jadi terlatih untuk mengerjakan sesuatu dengan cepat, sehingga sekarang ini saya selalu mampu mengerjakan tugas kuliah S-2 saya di Xiamen University Tiongkok dengan cepat, bahkan jauh sebelum deadline-nya, karena saya sudah terbiasa dari kebiasaan di Singapura dulu. Demikianlah pengalaman saya belajar di NUS.